Kita boleh
percaya, berharap, bahkan berkhayal sesuatu akan terjadi. Tapi, kalau
kepercayaan, harapan dan khayalan itu sudah menguasai kita dan justru membuat
kita ngga bisa melihat kenyataan sebenarnya berarti kita sudah kelebihan batas!
Soalnya, itu berarti kita udah terobsesi
dengan sesuatu atau lebih sering seseorang.
Apa sih obsesi
itu? Menurut Jules Baillarger, seseorang psikiater klasik, obsesi itu berarti keadaan ketika kesadaran kita
di kuasai oleh sebuah ide ataupun orang lain, yang akhirnya menghalangi orang
tersebut dalam bertindak atau lebih keren nya kita udah tenggelam sama yang
namanya khayalan kita sendiri. Nah, kalau udah gini keadaanya, susah banget loh
buat kita berpikir jernih atau membedakan mana yang nyata dan yang ngga.
Misalnya saja, si
A udah terobsesi sama si B dan pengen banget jadi pacarnya, dan lebih parahnya
dia udah ngga bisa membedakan apakah si B itu memang benar menyukainya atau
Cuma ge-er aja. Soalnya yang hanya dalam pikiran si A, yang dia tahu dan
inginkan hanyalah menjadi sedekat mungkin dengan si B. Makanya, supaya kita
ngga terobsesi dengan sesuatu –atau seseorang, kita harus mengatur kadar
kesukaan dan kecintaan kita dengan seseuatu –atau seseorang tersebut. Dan apa pun yang sifat nya berlebihan emang ngga
bagus juga, kan?
Dan ternyata
masih ada satu hal lagi loh yang membuat kita ngga bisa membedakan antara
kenyataan dan khayalan, yaitu penyangkalan diri. Sigmund Freud, seorang tokoh
psikoanalis asal Austria, menyebut penyangkalan diri (denial) sebagai salah
satu bentuk pertahanan diri di manusia. Penyangkalan ini kita lakukan supaya
kita ngga merasa tersakiti dengan kenyataan yang ada, yang biasa nya ngga
kurang menyenangkan –tapi emang bener sih. Alhasil, waktu kita menghadapi
kenyataan yang ngga sesuai dengan harapan, otak kita menolak mengakui hal itu
sebagain kenyataan, walupun sebenarnya jauh di bawah sadar, kita tahu hal itu
benar terjadi. Dan akhirnya kita mojok deh di kamar sambil dengerin lagu galau
dan tak lupa untuk menangis u,u
Nah, makanya
mulai dari sekarang ayo dong kita ‘berenang ke daratan’ atau lebih di kenal
sebangai MOVE ON! Sebelum hal yang lebih mengerikan itu terjadi, lebih baik
kita coba beberapa cara ini
1.
True to yourself!
Sulitnya membedakan antara
kenyataan dan khayalan berarti kita telah berusaha melindungi diri kita dari
kenyataan yang mungkin melukai. Tapi di sisi lain, hal ininjuga berarti kita
sedang membohongi diri sendiri. Makanya, untuk mengatasinya kita harus mulai
belajar jujur dengan membiarkan diri dan pikiran kita tahu apa yang sebenarnya
terjadi -walaupun itu manyakitkan.
2.
Berani untuk jatuh
Alasan lain kenapa kita ngga mau
menerima kenyataan adalah karena kita takut bakal terluka dan sakit. Ketakutan
inilah yang membuat kita memilih jalan pintas ynag nyaman, yakni menyanggkal
kenyataan. Padahal, ngga ada yang salah dari kegagalan. Toh, semua orang pasti
jatuh dulu kan sebelum bisa bangkit?
Pokok nya kalian inget aja deh
dengan kalimat yang satu ini “Selalu ada
hujan sebelum pelangi” . Kalian pasti tahu kan apa maksudnya? Ya udah deh,
sampe ketemu lagi di postingan berikutnyaa~
Sumber : majalah GADIS
0 komentar:
Posting Komentar