CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 22 November 2012

Tenggelam Dalam Khayalan


     Kita boleh percaya, berharap, bahkan berkhayal sesuatu akan terjadi. Tapi, kalau kepercayaan, harapan dan khayalan itu sudah menguasai kita dan justru membuat kita ngga bisa melihat kenyataan sebenarnya berarti kita sudah kelebihan batas! Soalnya, itu berarti kita udah terobsesi dengan sesuatu atau lebih sering seseorang.
     Apa sih obsesi itu? Menurut Jules Baillarger, seseorang psikiater klasik, obsesi itu berarti keadaan ketika kesadaran kita di kuasai oleh sebuah ide ataupun orang lain, yang akhirnya menghalangi orang tersebut dalam bertindak atau lebih keren nya kita udah tenggelam sama yang namanya khayalan kita sendiri. Nah, kalau udah gini keadaanya, susah banget loh buat kita berpikir jernih atau membedakan mana yang nyata dan yang ngga.
     Misalnya saja, si A udah terobsesi sama si B dan pengen banget jadi pacarnya, dan lebih parahnya dia udah ngga bisa membedakan apakah si B itu memang benar menyukainya atau Cuma ge-er aja. Soalnya yang hanya dalam pikiran si A, yang dia tahu dan inginkan hanyalah menjadi sedekat mungkin dengan si B. Makanya, supaya kita ngga terobsesi dengan sesuatu –atau seseorang, kita harus mengatur kadar kesukaan dan kecintaan kita dengan seseuatu –atau seseorang tersebut. Dan  apa pun yang sifat nya berlebihan emang ngga bagus juga, kan?
     Dan ternyata masih ada satu hal lagi loh yang membuat kita ngga bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan, yaitu penyangkalan diri. Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalis asal Austria, menyebut penyangkalan diri (denial) sebagai salah satu bentuk pertahanan diri di manusia. Penyangkalan ini kita lakukan supaya kita ngga merasa tersakiti dengan kenyataan yang ada, yang biasa nya ngga kurang menyenangkan –tapi emang bener sih. Alhasil, waktu kita menghadapi kenyataan yang ngga sesuai dengan harapan, otak kita menolak mengakui hal itu sebagain kenyataan, walupun sebenarnya jauh di bawah sadar, kita tahu hal itu benar terjadi. Dan akhirnya kita mojok deh di kamar sambil dengerin lagu galau dan tak lupa untuk menangis u,u
     Nah, makanya mulai dari sekarang ayo dong kita ‘berenang ke daratan’ atau lebih di kenal sebangai MOVE ON! Sebelum hal yang lebih mengerikan itu terjadi, lebih baik kita coba beberapa cara ini
1.       True to yourself!
Sulitnya membedakan antara kenyataan dan khayalan berarti kita telah berusaha melindungi diri kita dari kenyataan yang mungkin melukai. Tapi di sisi lain, hal ininjuga berarti kita sedang membohongi diri sendiri. Makanya, untuk mengatasinya kita harus mulai belajar jujur dengan membiarkan diri dan pikiran kita tahu apa yang sebenarnya terjadi -walaupun itu manyakitkan.
2.       Berani untuk jatuh
Alasan lain kenapa kita ngga mau menerima kenyataan adalah karena kita takut bakal terluka dan sakit. Ketakutan inilah yang membuat kita memilih jalan pintas ynag nyaman, yakni menyanggkal kenyataan. Padahal, ngga ada yang salah dari kegagalan. Toh, semua orang pasti jatuh dulu kan sebelum bisa bangkit?
Pokok nya kalian inget aja deh dengan kalimat yang satu ini “Selalu ada hujan sebelum pelangi” . Kalian pasti tahu kan apa maksudnya? Ya udah deh, sampe ketemu lagi di postingan berikutnyaa~

 Sumber : majalah GADIS

0 komentar:

Posting Komentar